![]() |
| Foto:Seorang Mahasiswa yang Vokal Menghina Rocky Gerung di Panggung menyatakan dirinya Juga bisa seperti Rocky Gerung |
VISTORBELITUNG.COM,Dalam sebuah forum diskusi yang digelar di lingkungan kampus, mahasiswa menunjukkan keberaniannya untuk menyampaikan kritik terbuka. Kali ini, seorang mahasiswa tak segan melontarkan olokan kepada akademisi dan analis politik Rocky Gerung dengan sebutan “goblok” saat menghadapi mahasiswa lain dalam suatu perdebatan. Aksi ini menjadi sorotan karena dianggap memanfaatkan kepintaran intelektual secara strategis untuk mengungguli lawan bicaranya.
Insiden tersebut terjadi saat perdebatan hangat mengenai topik sosial-politik. Mahasiswa yang bersangkutan secara terbuka menggunakan frasa yang dianggap provokatif terhadap figur publik seperti Rocky Gerung, yang dikenal dengan analisis tajam dan argumentasi filosofisnya. Hal ini dilakukan bukan hanya untuk mengejutkan lawan bicara, tetapi juga menunjukkan kemampuan retoris serta pengetahuan yang dimiliki sebagai bentuk dari “senjata intelektual” dalam berdebat.
Meskipun menggunakan kata-kata yang cenderung kasar, sang mahasiswa menunjukkan penguasaan materi yang cukup kuat. Ia berhasil mengarahkan diskusi dengan pendekatan logika dan data, bahkan di tengolokan yang dilontarkannya. Fenomena ini menggambarkan dinamika baru dalam budaya berdebat di kalangan generasi muda, di mana ketajaman berpikir dan kemampuan argumentasi sering kali diuji dengan cara yang tak jarang disertai dengan sikap berani, provokatif, atau bahkan kontroversial.
Reaksi di antara mahasiswa yang hadir terbelah. Sebagian mendukung sikap kritis dan berani menyampaikan pendapat meskipun dengan cara yang kurang santun, sementara yang lain mengkritik penggunaan kata-kata yang dianggap merendahkan, terlebih terhadap seorang figur yang kerap dianggap sebagai representasi intelektual. Perdebatan ini pun menyulut diskusi lebih luas mengenai etika dalam menyampaikan kritik dan batasan antara keberanian intelektual dengan penghormatan terhadap individu.
Di media sosial, cuplikan peristiwa tersebut juga viral dan menuai berbagai tanggapan. Ada yang melihatnya sebagai bentuk keberanian akademik, namun tak sedikit yang menilai cara tersebut justru mengurangi substansi dari argumentasi yang dibangun. Bagaimanapun, peristiwa ini menunjukkan bahwa mahasiswa saat ini tidak hanya aktif dalam menyerap informasi, tetapi juga berani mengekspresikan pemikiran kritis meski dengan gaya yang berbeda-beda.
Kampus sebagai ruang akademik sejatinya menjadi tempat untuk melatih kemampuan berpikir kritis dan berdialog secara sehat. Kejadian ini bisa menjadi refleksi bersama tentang pentingnya membangun budaya diskusi yang tidak hanya mengandalkan kecerdasan dan retorika, tetapi juga menjunjung tinggi etika komunikasi dan saling menghargai perbedaan pendapat.
