Aksi Menjijikkan Pegulat Jiu-Jitsu Saat Bertanding Masukan Jadi ke LUBANG LAWANNYA -->

Aksi Menjijikkan Pegulat Jiu-Jitsu Saat Bertanding Masukan Jadi ke LUBANG LAWANNYA

Jan 26, 2026, January 26, 2026

 

Foto:Olahraga bela diri Jiu jitsu


VISTORBELITUNG.COM,Dalam dunia olahraga bela diri, sportivitas, teknik, dan aturan adalah hal yang dijunjung tinggi. Namun, sebuah insiden baru-baru ini menggemparkan komunitas Jiu-Jitsu dan menuai kecaman dari berbagai pihak. Seorang pegulat dilaporkan melakukan tindakan yang dinilai sangat tidak pantas dan melanggar norma pertandingan dengan memasukkan jarinya ke dalam dubur lawannya untuk tujuan mengunci dan melumpuhkan gerakan.


Insiden ini terjadi dalam sebuah pertandingan Jiu-Jitsu yang disaksikan langsung oleh penonton. Saat pertarungan sedang berlangsung intens, salah seorang pegulat terlihat menggunakan teknik yang sama sekali tidak lazim. Alih-alih menerapkan kuncian standar seperti armbar, triangle choke, atau rear naked choke, pegulat tersebut justru memilih untuk memasukkan jarinya ke dalam lubang dubur lawannya secara paksa. Tujuannya diklaim untuk menciptakan kuncian yang menyiksa dan membuat lawan tidak berkutik.


Rekaman kejadian tersebut dengan cepat menyebar di media sosial. Reaksi penonton yang hadir langsung di lokasi maupun yang menyaksikan melalui video seragam: gelisah, jijik, dan tidak percaya. Banyak yang merasa tindakan tersebut melampaui batas pertandingan olahraga dan masuk ke wilayah pelecehan serta kekerasan yang tidak perlu.


Jiu-Jitsu, sebagai seni bela diri yang mengedepankan kontrol dan penguncian sendi, memiliki aturan yang jelas tentang teknik yang diizinkan dan yang dilarang. Teknik-teknik berbahaya yang dapat menyebabkan cedera serius, seperti spinal locks tanpa kontrol atau serangan ke area mata, sudah jelas dilarang. Tindakan yang dilakukan pegulat ini dianggap sebagai pelanggaran berat karena beberapa alasan:


1. Tidak Higienis dan Berisiko Kesehatan: Memasukkan jari ke area dubur lawan tanpa perlindungan sangat tidak steril dan berpotensi menularkan bakteri atau virus, baik bagi pelaku maupun korban.

2. Bentuk Pelecehan Fisik: Tindakan ini dianggap sebagai pelecehan seksual dalam konteks pertandingan, karena melanggar integritas tubuh lawan dengan cara yang intim dan memalukan.

3. Melenceng dari Esensi Jiu-Jitsu: Teknik tersebut sama sekali tidak mencerminkan seni, strategi, atau keahlian teknis yang menjadi ciri khas Jiu-Jitsu. Ini dianggap sebagai tindakan putus asa dan kotor yang merusak citra olahraga.


Reaksi dari Komunitas dan Kemungkinan Sanksi


Komunitas Jiu-Jitsu nasional dan internasional langsung bereaksi. Banyak pegulat profesional, pelatih, dan figur publik di dunia bela diri menyuarakan kekecewaan dan menuntut tindakan tegas. Federasi atau penyelenggara turnamen diperkirakan akan memberikan sanksi yang berat kepada pelaku, mulai dari diskualifikasi permanen, pencabutan lisensi, hingga larangan mengikuti turnamen untuk waktu yang sangat lama atau selamanya.


Beberapa ahli juga menekankan pentingnya wasit dan ofisial pertandingan untuk lebih waspada dan berani menghentikan pertandingan jika melihat gelagat atau teknik yang mencurigakan dan tidak wajar, sebelum insiden seperti ini terjadi.


Insiden memalukan ini menjadi pengingat keras bagi seluruh stake holder olahraga bela diri, khususnya Jiu-Jitsu:


· Pentingnya Edukasi Etika: Tidak hanya teknik, pendidikan tentang sportivitas, rasa hormat kepada lawan, dan batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar harus terus ditekankan kepada setiap atlet, dari level pemula sekalipun.


· Peran Aktif Wasit dan Ofisial: Kualifikasi dan kewenangan wasit perlu ditingkatkan agar mereka dapat menjaga kemurnian pertandingan dan keselamatan atlet.


· Komitmen pada Nilai Inti: Olahraga bela diri pada dasarnya adalah tentang disiplin, pengendalian diri, dan kehormatan. Tindakan yang mengorbankan nilai-nilai ini demi kemenangan sama sekali tidak dapat dibenarkan.


Insiden ini diharapkan menjadi catatan kelam yang tidak terulang kembali. Dunia Jiu-Jitsu, dan olahraga pada umumnya, harus tetap menjadi arena untuk mengasah kemampuan, ketangguhan mental, dan sikap kesatria, bukan tempat untuk aksi-aksi menjijikkan yang merendahkan martabat manusia dan sportivitas itu sendiri.

TerPopuler