![]() |
| Foto: Dharma Pongrekun |
VISTORBELITUNG.COM,Temuan berkas email dalam dokumen Epstein yang belakangan viral, menggebrak ruang publik global. Tak terkecuali di Indonesia, publik teringat kembali dengan pernyataan kontroversial yang pernah dilontarkan oleh Dharma Pongrekun pada salah satu debat Pilgub DKI Jakarta 2024 silam.
Kala itu, dalam pernyataannya yang menyentuh isu pandemi, Pongrekun menyampaikan:
“Saya paham betul tentang pandemi ini agenda terselubung dari asing untuk mengambil alih kedaulatan negara.”
Ucapan tersebut sempat menjadi bahan cibiran dan kritik tajam dari berbagai pihak. Banyak yang menilai pernyataannya sebagai narasi konspirasi tanpa dasar. Namun, gelombang reaksi publik berbalik arah secara drastis setelah berbagai dokumen yang terkait dengan Jeffrey Epstein dirilis dan dikaji ulang.
Alih-alih melanjutkan cercaan, kini banyak warganet justru ramai-ramai menyampaikan permintaan maaf kepada Dharma Pongrekun di berbagai platform media sosial, terutama X (sebelumnya Twitter). Unggahan-unggahan yang beredar menunjukkan pergeseran sikap yang signifikan.
Salah satu cuitan yang viral menyatakan: “Dia diketawain krn terus bicara elit global tiap kesempatan, ternyata anjrit dia benar. Kita aja yang belum ngeh atau tidak mau mengerti.”
Yang semakin menguatkan kecurigaan publik adalah adanya fakta bahwa pada Oktober 2019 dua bulan sebelum kasus pertama COVID-19 diumumkan di Wuhan sebuah latihan simulasi pandemi global bertajuk “Event 201” telah digelar. Acara ini diselenggarakan oleh Johns Hopkins Center for Health Security bekerja sama dengan World Economic Forum dan Bill & Melinda Gates Foundation.
Simulasi tersebut membayangkan skenario pandemi coronavirus yang dimulai dari Brasil, menyebar ke seluruh dunia, dan menyebabkan dampak kesehatan serta ekonomi yang masif. Koinsidensi waktu antara latihan ini dengan merebaknya COVID-19 di kemudian hari menjadi salah satu pemicu munculnya pertanyaan kritis: apakah pandemi ini telah “didesain” atau setidaknya diantisipasi jauh sebelumnya?
Meski para penyelenggara Event 201 menyatakan bahwa latihan itu hanyalah bagian dari kesiapsiagaan menghadapi ancaman kesehatan global, banyak pengamat dan masyarakat sipil yang mempertanyakan transparansi dan motif di baliknya.
Perubahan narasi publik terhadap pernyataan Dharma Pongrekun mencerminkan gelombang skeptisisme yang tumbuh terhadap narasi resmi pandemi. Banyak yang mulai mempertanyakan kebenaran informasi yang diberikan selama ini, serta mencurigai adanya agenda politik dan ekonomi global di balik krisis kesehatan tersebut.
Meskipun demikian, penting untuk diingat bahwa diskusi semacam ini harus didasari oleh data dan sumber yang kredibel, serta tidak langsung terjebak pada kesimpulan tanpa verifikasi mendalam.
Isu pandemi COVID-19 dan kemungkinan kaitannya dengan skenario yang telah disimulasikan sebelumnya terus memantik perdebatan. Pembukaan dokumen-dokumen seperti Epstein Files dan kesadaran publik terhadap acara seperti Event 201 telah mengubah cara banyak orang memandang krisis global ini. Apakah ini kebetulan, atau ada skenario yang lebih besar yang belum sepenuhnya terungkap? Hanya waktu dan investigasi lebih lanjut yang dapat menjawabnya.
Sementara itu, permintaan maaf warganet kepada Dharma Pongrekun mungkin menjadi penanda bahwa masyarakat kini lebih kritis dan terbuka terhadap berbagai kemungkinan narasi terutama yang selama ini dianggap sebagai “teori konspirasi”.
