"Era Dijilatisasi": Salah Ucap yang Mencuri Perhatian dan Cerita di Balik Debut Debat yang Viral -->

"Era Dijilatisasi": Salah Ucap yang Mencuri Perhatian dan Cerita di Balik Debut Debat yang Viral

Jan 15, 2026, January 15, 2026

 

Foto: debat viral yang salah sebut mulutnya malah Typo saat ucapkan "era digitalisasi"


VISTORBELITUNG.COM,Suasana ruang debat biasanya dipenuhi dengan argumen tajam, data akurat, dan retorika yang memukau. Namun, terkadang, momen paling tak terlupakan justru datang dari hal yang tak terduga: sebuah "typo mulut" yang spontan dan jujur. Inilah yang terjadi pada seorang wanita sebut saja Kak Jihan yang menjadi buah bibir di media sosial setelah debutnya dalam sebuah lomba debat.


Dalam video yang diunggah oleh akun TikTok @jianshr, terlihat Kak Jihan dengan semangat menyampaikan poinnya. Namun, di tengah tekanan dan gugupnya sebagai pemula, lidahnya sedikit "keseleo". Alih-alih menyebut "Era Digitalisasi", yang terucap justru adalah "Era Dijilatisasi" sebuah plesetan tak sengaja yang langsung memecah ketegangan ruangan.


Reaksi spontan pun terjadi. Sang juri tak kuasa menahan diri dan spontan ber-istighfar, mungkin campuran antara kaget, lucu, dan gemas. Ekspresi polos Kak Jihan yang menyadari kesalahannya justru mengundang simpati dan tawa. Video singkat itu pun menyebar seperti virus, ditonton lebih dari 12 juta kali, menjadikan Kak Jihan wajah baru yang relatable bagi banyak netizen.


Kesalahan ucapan itu tidak dilihat sebagai sebuah kegagalan, melainkan sebagai momen manusiawi yang sangat relatable. Caption dalam video, "Wkwkwk pertama kali ikut debat", dan pertanyaan di akhir, "Siapa yang pernah ikut debat pertama kali jadi nervous banget kayak kak Jihan?", menyentuh langsung pada pengalaman banyak orang: perasaan gemetar, demam panggung, dan ketakutan salah saat pertama kali tampil di depan umum.


Kak Jihan mewakili setiap kita yang pernah merasakan detak jantung berdegup kencang di momen penting. Debat, dengan sifatnya yang menantang dan penuh tekanan, memang bisa membuat siapa pun, terutama pemula, merasa sangat nervous. Kesalahan "Era Dijilatisasi" itu justru melumerkan kesan kaku dari lomba debat dan mengingatkan kita bahwa di balik setiap peserta yang berusaha tampil sempurna, ada manusia biasa yang bisa gugup dan salah.


Uniknya, "typo mulut" ini secara tidak sengaja menciptakan istilah baru yang langsung dicerna oleh netizen. Banyak yang berkomentar dengan kreatif, mencoba menerjemahkan apa arti "dijilatisasi" sebuah kata yang jelas tidak ada dalam kamus, tetapi terasa menggelitik. Beberapa menanggapi dengan humor, seolah-olah itu adalah istilah teknis baru yang serius. Interaksi ini menunjukkan bagaimana kesalahan kecil di era digital bisa berubah menjadi konten bersama yang menghibur dan memicu keterlibatan.


Pelajaran di Balik Viral: Keberanian Lebih Berharga dari Kesempurnaan


Kisah Kak Jihan memberikan pelajaran berharga:


1. Keberanian untuk memulai adalah langkah pertama yang paling penting. Terlepas dari hasil atau kesalahan kecil, ia sudah mengalahkan rasa takut dengan berdiri di sana.


2. Authenticity (keaslian) menarik perhatian. Ketulusan dan rasa gugupnya justru lebih mengena daripada performa yang dingin dan tanpa cacat.


3. Media sosial bisa menjadi ruang yang positif. Alih-alih mengejek, mayoritas respons netizen penuh dukungan, tawa, dan pengakuan bahwa mereka pernah merasakan hal serupa.


Viralnya "Era Dijilatisasi" bukan tentang mempermalukan, melainkan tentang merayakan sisi manusiawi sebagai pembelajar. Kak Jihan, dengan segala kegugupannya, telah mengingatkan kita bahwa dalam perjalanan mengasah kemampuan (seperti berdebat), ada ruang untuk tertawa, untuk salah, dan untuk bangkit lagi.


Momen itu mungkin akan selalu diingatnya sebagai debut yang menggelikan, tetapi juga sebagai bukti bahwa ia memiliki keberanian yang mungkin tidak dimiliki banyak orang: keberanian untuk mencoba, meski hasilnya tidak sempurna. Dan di mata publik, justru ketidaksempurnaan itulah yang membuatnya sempurna untuk dijadikan inspirasi: jangan takut gagal, karena bahkan dari "salah ucap" pun bisa lahir pelajaran dan tawa yang menyatukan.

TerPopuler