Cacang Hidayat Penjaga Sekolah dengan Gaji Rp800 Ribu, Lulus PPPK di Pelosok Banten,Bukti Tenaga Pengajar Belum Sejahtera -->

Cacang Hidayat Penjaga Sekolah dengan Gaji Rp800 Ribu, Lulus PPPK di Pelosok Banten,Bukti Tenaga Pengajar Belum Sejahtera

Mar 8, 2026, March 08, 2026
Foto:Salah Satu Tenaga Pengajar PPPK yang Hidup dalam Keterbatasan



VISTORBELITUNG.COM,Di tengah hiruk-pikuk wacana peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik, masih ada luka lama yang tak kunjung sembuh di pelosok Banten. Namanya Cacang Hidayat, seorang penjaga sekolah sekaligus perpustakaan di Desa Sumurbandung, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak. Ia adalah sosok pahlawan tanpa tanda jasa yang hidupnya justru jauh dari kata layak.


Bayangkan, setiap hari Cacang harus berjalan kaki sejauh hampir 9 kilometer hanya untuk menunaikan tugasnya mendampingi para pelajar. Dengan gaji tak sampai Rp800 ribu per bulan, ia harus menghidupi keluarga dan bertahan di sebuah rumah reyot yang bahkan pernah tertimpa pohon tumbang. Rumah itu bukan hanya simbol kemiskinan, tapi juga bukti nyata betapa negara abai pada garda terdepan pendidikannya sendiri.


Tahun ini, secercah harapan muncul. Cacang dinyatakan lulus seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Statusnya kini mungkin lebih pasti, tapi nasibnya tak banyak berubah. Impiannya sederhana: punya rumah layak huni. Bukan rumah mewah, bukan mobil dinas, hanya tempat berteduh yang aman dari angin dan hujan.


Namun, hingga berita ini diturunkan, tak ada tanda-tanda kepedulian dari pihak berwenang. Ia masih terperangkap dalam lingkaran kemiskinan struktural yang seolah membiarkan para pengabdi pendidikan hidup dalam keterpurukan.


Kemana perhatian pemerintah daerah? Kemana janji kesejahteraan untuk tenaga honorer? Apakah harus menunggu Cacang Hidayat jatuh sakit atau rumahnya roboh total baru ada gerakan cepat dari para pejabat?


Kisah Cacang Hidayat adalah cermin pahit dari wajah birokrasi yang tumpul terhadap rasa keadilan. Di saat banyak anggaran mengalir untuk proyek-proyek yang tak menyentuh rakyat, seorang pengabdi pendidikan justru bergelut dengan tanah dan air mata.


Masyarakat mulai angkat suara. Tagar-tagar keprihatinan bermunculan. Kini, bola panas ada di tangan pemerintah. Mau dibiarkan berapa lama lagi kisah seperti ini terjadi? Atau baru akan bergerak setelah viral dan nama mereka tercoreng di mata publik?


Sumber: Jurnalistvbanten

TerPopuler