![]() |
| Foto:Mojtaba Khamenei Calon Pengganti Kepemimpinan |
VISTORBELITUNG.COM,Jakarta - Wafatnya Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel telah membuka babak baru krisis politik di Iran. Kekosongan kekuasaan di pucuk pimpinan tertinggi memicu proses suksesi cepat yang melibatkan Majelis Ahli (Assembly of Experts), satu-satunya badan yang berwenang memilih pemimpin baru. Nama yang paling santer disebut dan menjadi sorotan dunia adalah Sayyid Mojtaba Khamenei, putra kedua dari pemimpin yang gugur tersebut .
Menurut laporan yang mengutip pernyataan pejabat Iran yang mengetahui jalannya diskusi, Majelis Ahli menggelar pertemuan darurat secara virtual untuk membahas penerus kepemimpinan . Dalam musyawarah tersebut, Sayyid Mojtaba Khamenei (56 tahun) muncul sebagai calon terdepan. Seorang anggota Majelis Ahli bahkan menyatakan ada "harapan besar" bahwa pemimpin baru akan ditunjuk dalam waktu 24 hingga 48 jam .
Pengamat menilai pengalaman Mojtaba menjadi nilai jual utamanya. Ia dikenal luas memiliki hubungan dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan selama ini disebut-sebut bertanggung jawab mengoordinasikan aparat keamanan dan militer di balik layar . "Mojtaba adalah pilihan paling bijaksana saat ini karena dia sangat akrab dengan menjalankan dan mengoordinasikan aparat keamanan dan militer. Dia sudah bertanggung jawab atas hal ini," ujar Mehdi Rahmati, seorang analis di Teheran . Dukungan penuh dari IRGC disebut-sebut menjadi faktor penentu yang mendorong majelis untuk memilihnya di tengah situasi genting .
Namun, proses suksesi ini tidak berjalan mulus tanpa hambatan. Serangan Israel yang menargetkan gedung tempat pertemuan majelis di kota suci Qom memaksa para ulama untuk bersidang secara daring . Lebih dari itu, isu keamanan pribadi juga menjadi momok. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, secara terbuka menyatakan bahwa pemimpin baru Iran akan menjadi "target tegas untuk dilenyapkan" oleh militer Israel, sebuah ancaman yang membuat beberapa pihak di internal Iran ragu untuk mengumumkan nama pemimpin baru secara terburu-buru .
Meski menjadi kandidat terkuat, pemilihan Mojtaba Khamenei memicu kontroversi sengit di kalangan ulama. Konsep "kepemimpinan turun-temurun" dianggap bertentangan dengan semangat Revolusi Islam 1979 yang menggulingkan sistem monarki . Sejumlah anggota Majelis Ahli dilaporkan melakukan protes keras.
Sumber dari Iran International menyebutkan setidaknya delapan anggota majelis mengancam untuk tidak menghadiri sesi darurat sebagai bentuk protes atas apa yang mereka gambarkan sebagai "tekanan berat" dari Garda Revolusi untuk memaksakan nama Mojtaba Khamenei . Seorang anggota majelis bahkan menegaskan dalam sebuah panggilan telepon, "Ayatollah Ali Khamenei tidak senang dengan gagasan kepemimpinan putranya dan tidak pernah mengizinkan masalah ini diangkat selama hidupnya" .
Argumen penentang lainnya menyoroti kurangnya kualifikasi religius Mojtaba. Mereka berpendapat bahwa Mojtaba "tidak memiliki kedudukan ulama dan ahli hukum yang mapan dan publik," sehingga pemilihannya sebagai Vali-ye Faqih (Ahli Hukum Tertinggi) akan kurang memiliki legitimasi agama . Para penentang ini menyerukan agar pencalonan Mojtaba dibatalkan dan pemungutan suara ulang digelar untuk mencari figur yang lebih disepakati.
Di luar nama Mojtaba, Majelis Ahli yang beranggotakan 88 ulama senior ini sebenarnya memiliki beberapa kandidat lain. Dua nama yang masuk dalam nominasi final adalah Alireza Arafi, seorang ulama dan ahli hukum yang juga bagian dari dewan transisi kepemimpinan, dan Seyed Hassan Khomeini, cucu dari pendiri Revolusi Islam, Ayatollah Ruhollah Khomeini . Baik Arafi maupun Hassan Khomeini dipandang sebagai tokoh moderat, dengan Hassan Khomeini dikenal dekat dengan faksi reformis yang selama ini terpinggirkan .
Meskipun demikian, pemerintah Iran melalui perwakilannya di India, Ayatollah Dr. Abdul Majeed Hakeemelahi, membantah kabar bahwa pemilihan telah selesai dilakukan. Ia menegaskan bahwa proses masih berlangsung dan Mojtaba hanyalah salah satu kandidat. "Bukan karena dia putra Ayatollah Khamenei, tetapi karena kualifikasinya, mereka mungkin mempertimbangkan untuk memilihnya. Tapi ini belum final, dan mereka masih menilai untuk menemukan orang yang berkualifikasi untuk posisi ini," ujarnya .
Situasi perang yang masih berlangsung menjadi alasan utama penundaan pengumuman resmi . Keputusan akhir berada di pundak Majelis Ahli. Jika mereka memilih Mojtaba, Iran akan menghadapi tantangan besar berupa krisis legitimasi di dalam negeri, di mana sebagian rakyat dan ulama menolak apa yang mereka anggap sebagai dinasti baru. Di sisi lain, jika memilih figur moderat seperti Hassan Khomeini atau Arafi, mereka harus berhadapan dengan ketidakpuasan faksi garis keras Garda Revolusi yang selama ini menjadi tulang punggung keamanan rezim. Apapun keputusannya, langkah Majelis Ahli dalam beberapa hari ke depan akan menentukan tidak hanya arah kebijakan Iran, tetapi juga stabilitas kawasan Timur Tengah yang sedang bergolak.
