![]() |
| Foto:Penemuan sisa Peninggalan Sejarah disebut sebagai Lemuria |
VISTORBELITUNG.COM,Gunung Muria selama ini lebih dikenal sebagai destinasi religi dan wisata alam. Namun, di balik keindahan puncaknya yang menjulang dan sejuknya udara khas pegunungan, tersimpan sebuah narasi besar tentang masa lalu yang sering luput dari perhatian: jejak peradaban.
Unggahan terbaru dari Triyanto Soetardjo (@triyanto.soetardjo) menggugah kesadaran kita bahwa Muria bukan hanya gugusan batu dan hutan belaka. "Penemuan sisa-sisa peradaban Muria menjadi pengingat bahwa gunung ini pernah menjadi ruang hidup, laku, dan sejarah," tulisnya.
Pernyataan ini membuka perspektif baru bahwa lereng-lereng Muria dulunya adalah "ruang hidup" tempat masyarakat kuno berinteraksi, membangun hunian, dan menjalankan ritus kehidupan. Istilah "laku" dalam konteks ini bisa merujuk pada praktik spiritual, budaya, atau bahkan sistem pertanian yang telah berlangsung turun-temurun.
Sisa-sisa peradaban yang ditemukan, baik berupa struktur batuan kuno, artefak, maupun tatanan sosial yang masih tersisa, adalah bukti bisu tingginya nilai sejarah kawasan ini. Kekayaan Muria ternyata tidak hanya terletak pada flora dan faunanya yang beragam, tetapi juga pada nilai peradaban yang dikandungnya.
Oleh karena itu, upaya pelestarian Gunung Muria ke depan tidak bisa lagi hanya berfokus pada aspek lingkungan semata. Pelestarian juga harus mencakup perlindungan terhadap situs-situs bersejarah dan pemahaman mendalam tentang narasi budaya yang ada.
Sebagai warisan yang tak ternilai, sudah sepatutnya peradaban Muria ditelusuri, dipelajari, dan dijaga bersama. Bukan hanya untuk kepentingan akademis, tetapi juga agar generasi mendatang dapat memahami bahwa gunung ini pernah menjadi saksi bisu perjalanan panjang anak manusia dalam berinteraksi dengan alam dan Sang Pencipta.
#pekamuria #alammuria #GunungMuria #JejakPeradaban #SejarahNusantara
