![]() |
| Foto:Ahok |
VISTORBELITUNG.COM,Belum lama ini, jagat media sosial dihebohkan oleh pernyataan tegas Basuki Tjahaja Purnama atau yang akrab disapa Ahok terkait program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam sebuah unggahan video yang viral, pria yang dikenal dengan gaya bicara blak-blakannya itu kembali menyuarakan keprihatinannya terhadap celah korupsi dalam proyek-proyek negara.
"Prinsip Ahok emang nggak main-main! Di saat banyak orang cari celah di proyek negara, Pak Ahok justru blak-blakan nolak tawaran proyek dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Beliau lebih pilih sistem voucher daripada bagi-bagi proyek yang rawan 'bocor'," tulis keterangan dalam unggahan yang beredar luas pada 25 Februari lalu.
Lebih jauh, Ahok menyarankan agar pemerintah mempertimbangkan ulang skema pelaksanaan MBG. Menurutnya, alih-alih membangun proyek besar dengan rantai distribusi yang panjang dan rawan mark-up, akan lebih efektif jika dana dialirkan langsung kepada sasaran utama.
Ahok mengusulkan agar bantuan diberikan langsung dalam bentuk uang tunai kepada para ibu (emak-emak). Dengan begitu, para ibu bisa memasak sendiri makanan yang sesuai dengan selera dan kebutuhan gizi anak-anak mereka. "Karena MBG ini terlalu banyak celah di mark-up," tegas Ahok, menyoroti potensi kebocoran anggaran yang kerap terjadi dalam proyek-proyek besar.
Pernyataan ini sontak menuai beragam reaksi dari warganet. Banyak yang mendukung gagasan Ahok yang dinilai lebih realistis dan menyentuh langsung kebutuhan rakyat kecil. "DMS next pak ahok sama pak dedi mulyadi nhi presidennya fixs," tulis seorang warganet dengan nada setuju. Komentar lain juga menyoroti ironi di tubuh BUMN, "Pertamina juga rugi," sindir akun safira siffatu nissa, mengaitkan dengan isu efisiensi dan transparansi di perusahaan negara.
Usulan Ahok ini membuka kembali diskusi publik tentang efektivitas program-program populis versus pemberdayaan langsung masyarakat. Di tengah semangat pemerintahan baru di bawah Prabowo Subianto untuk menjalankan program strategis, masukan seperti dari Ahok menjadi penting sebagai bahan evaluasi agar dana negara benar-benar sampai ke tangan yang membutuhkan tanpa harus tersedot di tengah jalan oleh praktik curang.
