![]() |
| Foto:Seorang Bapak-bapak yang Memungut beras dari Sela-sela Mobil Truck |
VISTORBELITUNG.COM,Di tengah narasi tentang negeri yang dikaruniai kekayaan alam melimpah, terkadang tersembunyi kisah pilu yang justru terjadi di tengah masyarakat. Seperti sebuah potret yang baru-baru ini viral, seorang bapak terlihat memunguti beras dari sela-sela truk yang sedang berjalan. Gambar itu bukan sekadar momen biasa, melainkan cerminan nyata dari kesulitan ekonomi yang masih menghimpit sebagian rakyat.
Dalam foto tersebut, tertulis kalimat: “Karena Susahnya Ekonomi,Moment... Seorang Bapak Terlihat Ambilin Beras Dari Sela-Sela Truk Yang Berjalan.”sebuah jeritan hati yang lahir dari keprihatinan sehari-hari. Truk yang berjalan mungkin mengangkut bahan pangan, dan butiran beras yang terjatuh di jalan dianggap sebagai rezeki yang harus diselamatkan.
Ironisnya, Indonesia dikenal sebagai negara agraris dengan produksi beras yang besar. Lahan subur, sawah menghijau, dan program ketahanan pangan terus digaungkan. Namun, di balik itu, masih ada orang yang harus berjuang hanya untuk mengisi piringnya dengan nasi. Ia rela mengambil risiko, berdiri di pinggir jalan, memunguti satu per satu butir beras yang tercecer simbol dari betapa berharganya setiap butir bagi yang membutuhkan.
Fenomena ini mengingatkan kita bahwa kemiskinan dan ketimpangan masih menjadi tantangan nyata. Di satu sisi, ada gudang beras yang penuh, program bantuan sosial yang dicanangkan, namun di sisi lain, akses terhadap pangan yang layak belum dirasakan oleh semua lapisan masyarakat. Potret bapak ini adalah representasi dari mereka yang sering terabaikan, yang hidup di sela-sela kebijakan dan kemajuan ekonomi yang tak selalu inklusif.
Momen seperti ini seharusnya menjadi pengingat bagi semua pihak: pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat. Kekayaan alam saja tidak cukup jika tidak diiringi dengan pemerataan kesejahteraan. Ketahanan pangan harus dibangun dari bawah, memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang harus memunguti beras dari jalan hanya untuk bertahan hidup.
Dalam diam, gambar itu berbicara lantang: negeri ini kaya, tapi masih ada yang lapar. Masih ada yang berjuang di antara sela-sela truk yang melintas, mencari sisa-sisa harapan dari butir-butir yang tercecer. Mari jadikan ini sebagai momentum untuk bergerak lebih serius, membangun sistem yang lebih adil, dan memastikan bahwa tidak ada lagi potret memilukan yang lahir dari kelaparan di tanah yang seharusnya gemah ripah loh jinawi.
