Deadline Perang 72 Jam,Perundingan Nuklir AS-Iran Gagal, Armada Perang Siap Hantam Teheran -->

Deadline Perang 72 Jam,Perundingan Nuklir AS-Iran Gagal, Armada Perang Siap Hantam Teheran

Feb 28, 2026, February 28, 2026
Foto:Ilustrasi Diplomatik AS-Iran



VISTORBELITUNG.COM,Jenewa – Upaya diplomasi tingkat tinggi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali menemui jalan buntu. Putaran ketiga perundingan tidak langsung yang berlangsung di Jenewa, Swiss, pada Kamis (26/2/2026) berakhir tanpa kesepakatan. Kegagalan ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan militer di kawasan, memicu kekhawatiran akan pecahnya perang besar dalam hitungan jam 


Perundingan yang dimediasi oleh Oman tersebut berlangsung sangat intensif, namun gagal menjembatani perbedaan fundamental antara kedua negara. Sumber-sumber diplomatik menyebutkan bahwa delegasi AS yang dipimpin oleh utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner mengajukan serangkaian tuntutan keras yang langsung ditolak mentah-mentah oleh Teheran .


Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, memang sempat menyebut adanya "proposal konstruktif" di awal perundingan. Namun, kebuntuan terjadi ketika rincian teknis mulai dibahas . Menurut laporan Wall Street Journal yang dikutip Media Indonesia, delegasi AS mengajukan tiga tuntutan utama yang dianggap sebagai "prasyarat berat" .


Tuntutan tersebut meliputi:


1. Penghancuran total fasilitas nuklir strategis Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan.


2. Penghentian permanen seluruh aktivitas pengayaan uranium di dalam negeri Iran (zero enrichment).


3. Transfer seluruh sisa cadangan uranium yang telah diperkaya ke wilayah Amerika Serikat .


Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang memimpin delegasi Teheran, secara tegas menolak tuntutan tersebut. Ia menegaskan bahwa kedaulatan program nuklir Iran tidak dapat dinegosiasikan, terutama dalam hal pembongkaran fasilitas fisik. "Iran dalam keadaan apa pun tidak akan pernah mengembangkan senjata nuklir; namun kami juga tidak akan pernah melepaskan hak kami untuk memanfaatkan teknologi nuklir damai bagi rakyat kami," tegas Araghchi .


Iran menolak mentah-mentah proposal AS yang dianggap melampaui batas kedaulatan program nuklirnya. 


Kegagalan diplomasi ini terjadi di tengah pengerahan kekuatan militer AS terbesar di Timur Tengah sejak invasi Irak tahun 2003. Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah memperingatkan Teheran dengan mengirimkan "armada besar" militer ke posisi strategis di dekat Iran .


Wakil Presiden AS, JD Vance, dalam pernyataannya kepada Washington Post, tidak menutup kemungkinan adanya serangan udara baru. Vance menyebut bahwa meskipun opsi diplomasi tetap diutamakan, AS tidak akan terlibat dalam "perang panjang" dan semua opsi bergantung pada langkah Iran selanjutnya . Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mendesak agar program rudal balistik Iran juga dimasukkan dalam negosiasi, sebuah isu yang selama ini ditolak oleh Teheran .


Trump sendiri dilaporkan telah menetapkan tenggat waktu 10 hingga 15 hari bagi Iran untuk mencapai kesepakatan, dengan ancaman konsekuensi "hal-hal buruk" jika gagal. Dengan berakhirnya perundingan di Jenewa tanpa hasil, jam mulai berdetak menuju kemungkinan konflik terbuka .


Di pihak Iran, respons keras juga disuarakan. Abbas Araghchi dalam sebuah wawancara sebelum perundingan memperingatkan bahwa jika AS melancarkan serangan, maka konsekuensinya akan sangat mengerikan dan meluas. "Tidak akan ada kemenangan bagi siapa pun itu akan menjadi perang yang menghancurkan," ujar Araghchi kepada India Today .


Ia menambahkan bahwa pangkalan-pangkalan militer AS yang tersebar di kawasan akan menjadi target sah jika terjadi serangan. "Sayangnya, mungkin seluruh kawasan akan terlibat. Ini adalah skenario yang sangat mengerikan," imbuhnya . Ancaman ini mencakup potensi blokade Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui seperlima pasokan minyak dunia .


Peringatan Menlu Iran Abbas Araghchi tentang skenario perang yang sangat mengerikan jika AS melancarkan serangan. 


Meskipun medator Oman, Badr al-Busaidi, menyatakan telah terjadi "pertukaran ide kreatif dan positif" dan "kemajuan signifikan," pernyataan optimis ini tidak diikuti dengan terobosan nyata . Satu-satunya kesepakatan konkret yang dihasilkan adalah melanjutkan pembicaraan di tingkat teknis di Wina pekan depan, yang akan melibatkan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) .


Para analis menilai bahwa perbedaan mendasar dalam ruang lingkup negosiasi masih menjadi hambatan terbesar. AS menginginkan kesepakatan yang komprehensif mencakup program rudal dan pengaruh regional Iran, sementara Iran bersikeras agar pembahasan hanya terbatas pada isu nuklir . Di dalam negeri AS, tekanan politik juga muncul. Senator Lindsey Graham, misalnya, menyatakan bahwa kesepakatan yang mengizinkan pengayaan uranium dalam jumlah kecil sekalipun "tidak masuk akal" .


Publikasi foto satelit oleh Associated Press juga menunjukkan aktivitas di dua fasilitas nuklir Iran yang sempat dibom AS, mengindikasikan upaya Teheran untuk memulihkan material. Hal ini semakin memperumit situasi, apalagi Iran masih memblokir akses inspektur IAEA ke lokasi-lokasi tersebut .


Dengan tenggat waktu Trump yang semakin mendekat dan pengaturan teknis yang masih alot, dunia kini menanti langkah selanjutnya. Akankah meja perundingan di Wina menghasilkan formula ajaib untuk meredakan ketegangan, atau justru sirene perang akan berbunyi dalam 72 jam ke depan? Kawasan Timur Tengah dan stabilitas global berada di ujung tanduk.

TerPopuler