Kisah Arjuman,Sering Ikat Kepala Siswa SMA yang Menyembunyikan Sakit Hingga Akhir Hayat -->

Kisah Arjuman,Sering Ikat Kepala Siswa SMA yang Menyembunyikan Sakit Hingga Akhir Hayat

Feb 11, 2026, February 11, 2026
Foto:semua teman haru melihat keadaan temannya yang sedang sakit


VISTORBELITUNG.COM,Samarinda – Suasana duka menyelimuti sebuah Sekolah Menengah Atas di Samarinda. Kepergian Arjuman, seorang siswa yang dikenal ceria dan ramah, meninggalkan luka mendalam bagi teman-teman dan gurunya. Namun di balik senyum yang ia tebarkan setiap hari, tersimpan pergulatan batin dan fisik yang tak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.


Arjuman bukan siswa biasa. Sejak kecil, ia telah kehilangan kedua orang tuanya. Ia tinggal bersama kakaknya yang sudah berkeluarga, menjalani hari-hari tanpa kehangatan sosok ayah dan ibu. Meski demikian, di sekolah ia selalu tampak ceria, tak pernah menunjukkan beban yang dipikulnya.


Satu kebiasaan Arjuman yang kerap menjadi perhatian teman-temannya adalah cara ia mengikat kepalanya menggunakan dasi dan karet. Banyak yang mengira itu sekadar gaya unik atau candaan khas Arjuman. Tak ada yang menyangka bahwa di balik dasi dan karet itu, Arjuman sedang menahan rasa sakit hebat di kepalanya.


Kondisi kesehatannya terus memburuk tanpa sepengetahuan banyak orang. Saat akhirnya ia dibawa ke rumah sakit, Arjuman ditolak di dua fasilitas kesehatan pertama. Ia baru diterima di rumah sakit ketiga, dalam kondisi yang sudah sangat kritis. Arjuman sempat koma dan dirawat intensif di ruang ICU, tetapi takdir berkata lain. Ia mengembuskan napas terakhir setelah berjuang melawan penyakit yang selama ini ia pendam sendiri.


Kisah Arjuman menjadi cermin pahit tentang bagaimana tak semua rasa sakit tampak dari luar. Ia memilih diam, mungkin karena tak ingin merepotkan, atau karena terbiasa berjuang sendiri sejak kecil.


Kepergiannya meninggalkan pelajaran berharga: bahwa di sekitar kita mungkin ada Arjuman-Arjuman lain yang tengah berjuang diam-diam. Bahwa dasi dan karet di kepala bisa jadi bukan sekadar gaya, melainkan jeritan sunyi yang tak sempat terdengar.


Samarinda, kehilangan salah satu putra terbaiknya. Namun kisah Arjuman akan terus hidup sebagai pengingat untuk lebih peka, lebih peduli, dan tak pernah menyepelekan apa yang tak terlihat oleh mata.

TerPopuler