Mata-mata China di Langit Mediterania, Satelit Sapu Jagat Lacak Pergerakan Kapal Induk AS Gerald R. Ford -->

Mata-mata China di Langit Mediterania, Satelit Sapu Jagat Lacak Pergerakan Kapal Induk AS Gerald R. Ford

Feb 27, 2026, February 27, 2026

 

Foto:Kapal induk AS Terdeteksi Satelit China


VISTORBELITUNG.COM,Mediterania – Ketegangan di kawasan Timur Tengah yang sedang memanas turut memicu aksi saling monitor antara kekuatan besar dunia. Terbaru, sebuah perusahaan teknologi dan analitik asal China, MizarVision, berhasil mempublikasikan citra satelit resolusi tinggi yang menunjukkan pergerakan kapal induk tercanggih Amerika Serikat, USS Gerald R. Ford (CVN-78), di Laut Mediterania .


Mengutip laporan dari Athens News pada 27 Februari 2026, citra-citra tersebut diambil tak lama setelah kapal induk raksasa itu dilaporkan meninggalkan pangkalan Souda Bay di Kreta, Yunani, dan bergerak menuju arah perairan Israel . Kemunculan foto ini menjadi bukti terbaru bagaimana aktor non-negara sekalipun kini memiliki kemampuan pengamatan medan perang (battlefield surveillance) yang canggih.


MizarVision, perusahaan yang berbasis di Hangzhou (dengan beberapa sumber menyebutkan Shanghai), didirikan pada tahun 2021. Perusahaan ini mengkhususkan diri pada analisis citra satelit dengan memanfaatkan Kecerdasan Buatan (AI) untuk pengintaian geospasial, termasuk memonitor fasilitas militer dan strategis .


Publikasi MizarVision menunjukkan secara detail formasi pesawat yang berada di dek USS Gerald R. Ford. Kemampuan ini menunjukkan adanya "mata" China yang secara aktif "memburu" posisi aset-aset militer AS di kawasan vital seperti Mediterania . Dalam beberapa hari terakhir, satelit China juga dilaporkan aktif merekam pangkalan-pangkalan Amerika di Timur Tengah, menunjukkan peningkatan konsentrasi pasukan di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran .


Kemampuan China untuk melacak kapal induk AS seperti USS Gerald R. Ford bukan sekadar prestasi teknologi fotografi. Hal ini berkaitan erat dengan doktrin militer China yang dikenal sebagai "Rantai Pembunuh" (Kill Chain) .


Sebagaimana diulas dalam analisis Slash Gear yang dikutip oleh Koran Jakarta, keunggulan sesungguhnya China bukan hanya pada kapal induknya, melainkan pada integrasi sistem penginderaannya. Satelit, radar over-the-horizon, dan drone pengintai seperti yang dioperasikan MizarVision terhubung dalam sebuah jaringan . Jaringan inilah yang memungkinkan Pasukan Roket Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) untuk mendeteksi, melacak, dan pada akhirnya menargetkan kapal musuh dari jarak jauh.


Dengan adanya data real-time dari satelit, China dapat mengoordinasikan serangan rudal balistik antikapal (seperti DF-21D dan DF-26) yang dapat diluncurkan dari darat . Dalam skenario pertempuran, kemampuan ini memungkinkan China melancarkan serangan salvo (gelombang rudal) yang dapat membanjiri sistem pertahanan kapal perang AS, yang memiliki keterbatasan jumlah sel Vertical Launch System (VLS) dan amunisi intersepsi yang sangat mahal .


Pelacakan terhadap USS Gerald R. Ford ini terjadi di saat yang sensitif. Presiden AS Donald Trump baru-baru ini mengeluarkan peringatan keras kepada Iran terkait program nuklirnya, meningkatkan spekulasi tentang kemungkinan aksi militer . Kapal induk AS sering kali menjadi instrumen utama proyeksi kekuatan dalam situasi seperti ini.


Dengan dipublikasikannya posisi kapal induk oleh entitas China, hal ini secara tidak langsung dapat diartikan sebagai bentuk "operasi psikologis" , menunjukkan kepada AS bahwa setiap pergerakannya di kawasan itu berada di bawah pengawasan ketat . Selain kapal induk, satelit China juga memotret peningkatan jumlah pesawat di Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi, termasuk pesawat tanker KC-135 dan pesawat AWACS E-3 Sentry, yang jumlahnya sempat meningkat drastis dari 27 menjadi 43 unit hanya dalam hitungan hari .


Kemampuan ini memaksa angkatan laut saingan, termasuk AS, untuk mengadaptasi strategi mereka. Salah satu konsep yang dikembangkan adalah Operasi Maritim Terdistribusi (Distributed Maritime Operations/DMO) , di mana aset-aset laut disebar di area yang lebih luas untuk mengurangi risiko dihancurkan oleh serangan salvo rudal yang terkonsentrasi .


Dengan kemajuan teknologi satelit China yang dipadukan dengan AI, pengawasan di lautan terbuka kini telah memasuki era baru. Laut Mediterania, yang selama ini menjadi saksi bisu pergerakan armada dunia, kini juga menjadi ajang unjuk gigi teknologi intelijen berbasis antariksa.

TerPopuler