Misteri Nenek Gayung Hantu Pembawa Tikar yang Mencemaskan Jakarta -->

Misteri Nenek Gayung Hantu Pembawa Tikar yang Mencemaskan Jakarta

Feb 24, 2026, February 24, 2026

 

Foto: Sosok Misterius yang disebut sebagai Nenek Gayung


VISTORBELITUNG.COM,Jakarta – Indonesia memang kaya akan cerita mistis yang berkembang di masyarakat. Salah satu urban legend yang paling ramai diperbincangkan pada awal dekade 2010-an adalah sosok Nenek Gayung. Hantu perempuan tua yang selalu membawa gayung dan tikar ini berhasil membuat gempar warga Jakarta, terutama pada akhir tahun 2011, ketika kabar tentang kemunculannya mulai menyebar dari mulut ke mulut.


Nenek Gayung digambarkan sebagai sosok nenek-nenek berambut putih panjang yang terurai. Ia mengenakan kebaya, biasanya berwarna hitam, dan tidak pernah lepas dari dua benda khasnya: sebuah gayung dan segulung tikar. Kedua benda inilah yang kemudian menjadi ciri utama yang melekat pada namanya.


Penampakannya selalu dilaporkan terjadi di malam hari, terutama di jalanan yang sepi. Ia akan muncul tiba-tiba, berpura-pura menjadi seorang nenek tua yang kebingungan dan tersesat. Dengan wajah memelas, ia akan mencoba menarik perhatian orang yang lewat, meminta bantuan atau sekadar mengajak bicara.


Namun, di balik penampilannya yang tampak seperti nenek renta biasa, tersembunyi bahaya maut. Masyarakat percaya, siapa pun yang menanggapi atau menolong Nenek Gayung, maka orang tersebut akan celaka, bahkan meninggal dunia. Ia diyakini sedang mencari "tumbal" atau korban.


Hingga saat ini, tidak ada satu pun versi resmi yang dapat memastikan penyebab kematian Nenek Gayung. Kisahnya berkembang sebagai mitos urban dengan beberapa latar belakang berbeda. Dua versi yang paling populer di kalangan masyarakat adalah:


Versi inilah yang paling santer terdengar saat kisah Nenek Gayung pertama kali viral pada tahun 2011. Banyak warga yang meyakini bahwa arwah Nenek Gayung adalah korban dari praktik tumbal dalam proyek pembangunan Busway di Jakarta.


Kepercayaan mengenai tumbal dalam proyek-proyek besar memang sudah lama mengakar di sebagian masyarakat. Konon, untuk memastikan keselamatan dan kelancaran pembangunan, diperlukan "penjaga" gaib yang berasal dari arwah manusia yang dijadikan tumbal. Nenek Gayung dipercaya sebagai salah satu korban dalam proyek tersebut.


Setelah meninggal secara tragis sebagai tumbal, arwahnya tidak bisa tenang. Ia kemudian bergentayangan dan terus mencari korban lain sebagai penggantinya. Inilah mengapa ia selalu berusaha mendekati manusia yang melintas di tempat-tempat sepi.


Versi lain menyebutkan bahwa semasa hidupnya, Nenek Gayung bukanlah perempuan biasa. Ia adalah seorang praktisi ilmu hitam yang sedang berusaha menyempurnakan ajarannya. Salah satu syarat yang harus dipenuhi adalah mencari "tumbal" atau korban jiwa manusia.


Kebiasaannya membawa gayung dan tikar konon berkaitan erat dengan ritual "memandikan" jenazah. Kedua benda tersebut adalah perlengkapan yang biasa digunakan untuk memandikan orang yang telah meninggal. Dalam versi ini, setelah meninggal dunia, Nenek Gayung terus melanjutkan misinya untuk mencari korban, tetapi kini dalam wujud sebagai hantu penasaran.


Versi ketiga, meskipun tidak sepopuler dua versi sebelumnya, menyebutkan bahwa Nenek Gayung adalah seorang nenek yang semasa hidupnya memiliki profesi mulia sebagai tukang memandikan jenazah. Namun, ketika ia sendiri meninggal dunia, tidak ada seorang pun yang memandikan jenazahnya. Akibatnya, arwahnya gentayangan dan terus melakukan apa yang biasa ia lakukan semasa hidup: memandikan jenazah, meskipun korbannya adalah orang-orang yang masih hidup dan ditemuinya di malam hari.


Tidak ada kepastian mutlak mengenai lokasi pertama kali Nenek Gayung menampakkan diri. Namun, kabar-kabar awal yang membuat kisah ini viral banyak menyebutkan bahwa sosok misterius ini berkeliaran di wilayah Jakarta Timur. Beberapa daerah yang sering dikaitkan dengan kemunculannya antara lain kawasan Penggilingan dan Cakung.


Dari sanalah kemudian cerita tentang Nenek Gayung menyebar dengan cepat, meluas ke berbagai penjuru Jakarta, bahkan hingga ke kota-kota lain di Indonesia. Sosoknya digambarkan sebagai hantu yang "ngayap" atau suka berpindah-pindah tempat, sehingga penampakannya bisa terjadi di mana saja, terutama di lokasi-lokasi yang sedang sepi dan gelap.


Terlepas dari benar atau tidaknya kisah ini, legenda Nenek Gayung telah menjadi bagian dari folklore urban Indonesia. Ia merefleksikan ketakutan kolektif masyarakat akan hal-hal mistis, sekaligus menjadi pengingat akan bahaya yang mungkin mengintai di tempat-tempat sepi pada malam hari. Cerita tentang Nenek Gayung juga menunjukkan bagaimana sebuah mitos bisa lahir dan berkembang, sering kali dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa besar yang sedang terjadi di masyarakat, seperti proyek pembangunan infrastruktur.


Hingga kini, Nenek Gayung tetap menjadi salah satu sosok hantu paling ikonik dalam daftar urban legend tanah air, membuktikan bahwa cerita mistis akan selalu memiliki tempat tersendiri dalam khazanah budaya populer Indonesia.

TerPopuler