![]() |
| Foto:Syaikh Dr. Muhammad bin Nuh Al-Qudhah |
VISTORBELITUNG.COM,Dalam pusaran konflik dan dinamika politik global, terutama yang menyangkut status Al-Quds (Yerusalem), pernyataan dari para pemimpin dunia silih berganti. Namun, seorang ulama terkemuka asal Yordania, Syaikh Dr. Muhammad bin Nuh Al-Qudhah, mengingatkan kita untuk tidak terjebak dalam permainan retorika politik yang berubah mengikuti kepentingan sesaat.
Syaikh Dr. Muhammad bin Nuh Al-Qudhah, yang pernah menjabat sebagai Menteri Waqaf dan anggota Parlemen Kerajaan Yordania, serta merupakan putra dari ulama besar Mazhab Syafi'i (Syaikh Dr. Nuh Al-Qudhah), memberikan nasihat dan refleksi mendalam. Menurut beliau, ukuran kebenaran bagi kaum Muslimin tidak ditentukan oleh seberapa kuatnya kekuasaan atau sepandai apa para pemimpin dunia dalam berpidato. Kebenaran yang hakiki hanyalah milik Allah dan apa yang disampaikan melalui wahyu-Nya.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
“Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka hidup di sisi Tuhan mereka dan mendapat rezeki.” (QS. Ali 'Imran: 169)
Ayat ini menjadi pengingat akan hakikat perjuangan di jalan Allah. Hidup yang hakiki bukan hanya kehidupan duniawi yang fana, melainkan kehidupan di sisi Allah yang penuh kemuliaan bagi para syuhada. Ini menegaskan bahwa standar kemenangan sejati tidak diukur dengan logika duniawi semata.
Lebih lanjut, Rasulullah ﷺ mengabarkan sebuah kabar gembira sekaligus penegasan bahwa akan selalu ada sekelompok dari umat ini yang tetap teguh membela kebenaran. Mereka tidak gentar menghadapi siapa pun yang memusuhi mereka, dan keberadaan mereka dikaitkan dengan Baitul Maqdis dan sekitarnya. Kabar ini menunjukkan bahwa tanah suci tersebut akan selalu memiliki hubungan erat dengan para pembela kebenaran, terlepas dari situasi politik yang sedang berlangsung.
Sejarah membuktikan bahwa peta kekuatan politik selalu berubah. Sebuah bangsa bisa berjaya hari ini, dan terpuruk di masa mendatang. Allah SWT sendiri menegaskan bahwa hari-hari (kemenangan dan kekalahan) itu dipergilirkan di antara manusia. Kekuasaan, jabatan, dan pengaruh politik hanyalah pinjaman yang bisa ditarik kapan saja.
Oleh karena itu, pertanyaan paling fundamental yang harus diajukan oleh umat Islam bukanlah sekadar "Siapa yang saat ini sedang angkat bicara tentang Al-Quds?" atau "Kekuatan politik mana yang sedang unggul?".
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: "Apakah umat ini masih teguh berpegang pada Al-Qur'an, atau justru mulai meninggalkannya?"
Ketika politik berbicara dengan berbagai kepentingan, Al-Qur'an datang dengan jawaban yang abadi. Kemuliaan dan kekuatan umat tidak terletak pada dukungan politik mana pun, melainkan pada sejauh mana mereka menjadikan wahyu Allah sebagai pedoman hidup dan kompas dalam menentukan sikap. Jika umat meninggalkan Al-Qur'an, maka mereka akan kehilangan arah di tengah hiruk-pikuk politik dunia yang sementara. Sebaliknya, jika Al-Qur'an menjadi rujukan utama, maka kebenaran akan senantiasa terjaga, dan janji Allah tentang pertolongan bagi hamba-Nya yang beriman adalah sebuah kepastian.
