KAKEK MUSANG Wanita Ini Jadi Korban Pelecehan Seksual di KRL Bogor -->

KAKEK MUSANG Wanita Ini Jadi Korban Pelecehan Seksual di KRL Bogor

Jan 25, 2026, January 25, 2026

 

Foto:Teduga Kakek Musang Mendapatkan Perlawanan dari Korban wanita


VISTORBELITUNG.COM,DEPOK – Sebuah aksi bejat kembali mencoreng keselamatan transportasi publik Ibu Kota. Seorang penumpang wanita menjadi korban pelecehan seksual di dalam Kereta Rel Listrik (KRL) arah Bogor, Sabtu malam (24/1) pukul 23.19 WIB. Insiden yang terjadi di tengah keramaian penumpang ini bukan hanya kejahatan biasa, tapi tamparan keras bagi rasa aman kita semua.


Menurut informasi yang beredar dari akun @depokviral, kejadian ini berlangsung di dalam gerbong kereta yang dimana terduga pelaku melakukan gerakan aneh di belakang wanita,awalnya wanita mengira itu hanya seorang wanita tua,namun saat di konfirmasi dan dilihat orang di sampingnya ternyara benar,terduga pelaku membayangi belakang korban seperti Menggesekan (Bayangan) yang seharusnya menjadi ruang publik yang aman bagi siapa saja. Alih-alih pulang dengan tenang setelah seharian beraktivitas, korban harus mengalami trauma mendalam di tangan oknum tak bermoral yang berani beraksi di depan banyak orang.


Kejadian ini mempertegas sebuah pola mengerikan: malam hari seakan menjadi "zona bebas" bagi pelaku kejahatan seksual di transportasi umum. Di mana pengawasan? Di mana rasa kemanusiaan? Di mana keberanian kita untuk mencegah dan melindungi?


Fakta bahwa ini terjadi bukan pertama kalinya adalah bukti kegagalan sistem. Sudah terlalu banyak air mata yang tumpah, terlalu banyak korban yang trauma, sementara pelaku masih leluasa berkeliaran, merasa kebal dari hukum.


Kita harus jujur bertanya: sampai kapan perempuan harus hidup dalam ketakutan saat menggunakan fasilitas umum? Sampai kapan mereka yang pulang kerja, pulang kuliah, atau sekadar bepergian, harus waspada ekstra karena ancaman yang seharusnya tidak ada?


Ini bukan lagi soal kewaspadaan pribadi. Ini soal kegagalan kolektif dalam menciptakan ruang publik yang beradab. Setiap kali ada kejadian seperti ini dan pelaku tidak ditangkap, tidak dihukum seberat-beratnya, itu artinya kita semua membiarkan budaya kekerasan seksual tumbuh subur.


Tuntutan Nyata untuk Perubahan


1. PT KCI dan Polri harus bergerak cepat. Tidak cukup hanya dengan pernyataan sikap. Temukan pelakunya! Publik butuh hasil nyata, bukan janji.


2. Tingkatkan pengawasan nyata, baik melalui petugas keamanan yang berpatroli aktif maupun teknologi CCTV yang benar-benar berfungsi dan dimonitor.


3. Hukum yang tegas dan tidak kompromi. Pelecehan seksual adalah kejahatan serius. Pelaku harus dijerat dengan pasal maksimal agar menjadi efek jera.


4. Budayakan keberanian untuk mencegah. Seluruh elemen masyarakat, terutama penumpang lain, harus memiliki keberanian untuk bersama-sama melindungi korban dan menolak aksi bejat ini.


Setiap detik kita diam, setiap kali kita menganggap ini "biasa saja", kita turut menyuburkan ruang bagi pelaku berikutnya untuk bertindak.


Korban ini adalah anak, saudara, atau teman kita. Rasa amannya direnggut dengan paksa. Kemarahan kita hari ini harus berubah menjadi tekanan nyata untuk sistem yang lebih aman dan perlindungan yang konkret. Jangan biarkan satu nyawa lagi terluka di tempat yang seharusnya menjadi hak semua orang: merasa aman.

TerPopuler