Drone Iran Dilaporkan Targetkan Anjungan Minyak UEA -->

Drone Iran Dilaporkan Targetkan Anjungan Minyak UEA

Mar 2, 2026, March 02, 2026

 

Foto:anjungan minyak milik Uni Emirat Arab (UEA)


VISTORBELITUNG.COM,Dubai, 2 Maret 2026 – Kawasan Teluk yang selama ini dikenal sebagai kawasan relatif stabil di tengah gejolak Timur Tengah, kini berubah menjadi medan konflik terbuka. Setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, Tehran melancarkan serangan balasan besar-besaran yang telah berlangsung selama dua hari berturut-turut. Dalam gelombang serangan ini, sebuah anjungan minyak milik Uni Emirat Arab (UEA) di Teluk Persia dilaporkan menjadi salah satu target yang dihantam .


Media sosial dibanjiri video amatir yang diklaim sebagai momen hantaman drone terhadap fasilitas minyak lepas pantai yang dioperasikan oleh UEA . Meskipun Kementerian Pertahanan UEA secara resmi mengonfirmasi serangan drone Iran di Pangkalan Angkatan Laut Al Salam di Abu Dhabi yang menyebabkan kebakaran, pihak berwenang belum merilis pernyataan resmi terpisah mengenai spesifikasi target anjungan minyak tersebut. Namun, sumber-sumber lokal meyakini bahwa serangan terhadap infrastruktur energi ini merupakan bagian dari strategi Iran untuk memperluas medan pertempuran .


Serangan ini tidak hanya menyasar instalasi militer. Landmark ikonik di Dubai, termasuk kawasan mewah The Palm dan hotel Burj Al Arab, juga dilaporkan menjadi sasaran, memicu kepanikan di kalangan warga dan ekspatriat . Di Abu Dhabi, pecahan rudal jatuh di kompleks Etihad Towers dan kawasan dekat kedutaan besar Israel, melukai seorang wanita dan anak-anaknya .


Menurut data Kementerian Pertahanan UEA, sejak serangan balasan dimulai, pihaknya telah mendeteksi 165 rudal balistik dan 541 drone yang diluncurkan Iran. Sebanyak 152 rudal balistik berhasil dihancurkan, sementara 506 drone berhasil dicegat. Meskipun sistem pertahanan udara bekerja keras, serangan ini telah menewaskan tiga warga asing (berkewarganegaraan Pakistan, Nepal, dan Bangladesh) serta melukai 58 orang lainnya di UEA .


Pembalasan Iran ini secara dramatis mengubah persepsi keamanan di negara-negara Teluk yang selama ini menjadi mitra utama AS. "Yang terbukti sekarang adalah bahwa kitalah - bukan Amerika Serikat - yang berada dalam garis tembak," ujar Dr. Ebtesam Al-Ketbi, Presiden Emirates Policy Center, kepada Reuters. "Ketika Iran menyerang, mereka menyerang Teluk terlebih dahulu dengan dalih menargetkan pangkalan AS" .


Seorang analis keamanan Teluk, Anna Jacobs, menegaskan bahwa negara-negara Teluk saat ini benar-benar berada di garis depan perang brutal ini. Menurutnya, komitmen terhadap diplomasi sedang diuji. "Jika Iran terus menyerang negara-negara ini dan meningkat lebih jauh, akan sangat sulit bagi mereka untuk hanya duduk diam dan tidak melakukan apa-apa," katanya .


UEA dengan tegas mengutuk serangan tersebut. Sebuah pernyataan resmi Kementerian Pertahanan UEA menggambarkan serangan itu sebagai "tindakan agresi yang terang-terangan dan pelanggaran nyata terhadap kedaulatan nasional serta hukum internasional." Abu Dhabi juga menegaskan hak penuhnya untuk merespons eskalasi ini dan mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk melindungi wilayahnya .


Penasihat Presidensial UEA, Anwar Gargash, melontarkan kritik tajam kepada Tehran. Ia menyebut serangan terhadap negara-negara Teluk sebagai sebuah kesalahan perhitungan besar. "Ini mengisolasi Iran pada saat yang kritis. Perang kalian bukanlah dengan tetangga kalian," tegas Gargash . Dalam wawancara terpisah dengan The Wall Street Journal, Gargash bahkan menyatakan bahwa nasib rezim Iran kini berada di tangan rakyat Iran, sebuah sinyal bahwa negara-negara Teluk mungkin tidak lagi terlalu keberatan dengan perubahan rezim di Tehran .


Sebagai langkah diplomatik lanjutan, UEA dilaporkan telah menutup kedutaan besarnya di Tehran dan menarik seluruh staf diplomatik .


Para analis menilai strategi Iran untuk menekan negara-negara Teluk dengan harapan mereka akan menekan AS dan Israel untuk gencatan senjata tampaknya gagal total. "Banyak orang di Teluk bangun pada hari Sabtu dengan kemarahan terhadap AS dan Israel, tetapi pergi tidur dengan kemarahan terhadap Iran," ujar William Wechsler, direktur program Timur Tengah di Atlantic Council .


Alih-alih menjauhkan diri dari konflik, negara-negara Dewan Kerjasama Teluk (GCC) justru menunjukkan persatuan yang langka. Bahkan Saudi dan UEA, yang sebelumnya terlibat perseteruan diplomatik, kini menunjukkan front persatuan melawan Iran .


Pakar keamanan mencatat bahwa serangan terhadap infrastruktur sipil dan ekonomi, termasuk bandara Dubai International tersibuk di dunia untuk lalu lintas internasional dan fasilitas minyak, telah mengubah perhitungan risiko di kawasan tersebut. "Iran telah melewati batas," kata pensiunan Marsekal Udara Inggris Martin Sampson. "Ini kini menjadi persoalan eksistensial bagi masa depan ekonomi dan sosial negara-negara Teluk" .


Dengan eskalasi yang terus berlanjut dan korban jiwa yang terus berjatuhan, kawasan Teluk kini berada di ambang pintu perang terbuka, di mana negara-negara yang dulunya menjadi surga ketenangan kini menjadi sasaran langsung dari konflik regional yang semakin meluas.

TerPopuler