![]() |
| Foto:Benyamin Netanyahu |
VISTORBELITUNG.COM,Tel Aviv/Yerusalem – Ketegangan di Timur Tengah memuncak setelah Israel melancarkan serangan militer ke Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Operasi yang disebut sebagai serangan "pendahuluan" atau preemptive strike ini langsung dibalas oleh Iran, memicu situasi krisis yang cepat meluas. Menyusul serangan tersebut, Israel langsung menutup wilayah udaranya dan mengumumkan status darurat di seluruh wilayah negara .
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengonfirmasi bahwa negaranya telah meluncurkan serangan terhadap Iran untuk "menghilangkan ancaman" terhadap keamanan Israel. Katz juga memperingatkan warga bahwa serangan rudal dan drone balasan dari Iran diperkirakan akan segera tiba .
"Keadaan darurat segera dan khusus" diumumkan mulai pukul 08:00 waktu setempat dan akan berlaku setidaknya hingga 2 Maret 2026. Selama masa darurat, seluruh aktivitas yang tidak esensial dilarang, institusi pendidikan dan perkantoran tidak beroperasi, serta Bandara Internasional Ben Gurion ditutup untuk penerbangan sipil .
Serangan balasan tidak perlu ditunggu lama. Iran meluncurkan gelombang rudal ke arah Israel. Otoritas Israel mengonfirmasi adanya serangan rudal dan menginstruksikan warga untuk tetap berada di dekat tempat perlindungan (bunker). Rumah sakit di Tel Aviv dan kota-kota lain disebutkan telah memindahkan pasien dan ruang operasi ke fasilitas bawah tanah sebagai antisipasi .
Di pihak Iran, dampak serangan dilaporkan sangat luas. Palang Merah Iran menyebutkan bahwa serangan udara yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel telah menghantam sedikitnya 174 kota di Iran. Dari total 1.332 serangan yang tercatat, sebanyak 636 lokasi berbeda menjadi sasaran. Tidak hanya instalasi militer, serangan juga dilaporkan merusak fasilitas sipil, termasuk 14 fasilitas medis dan kendaraan penyelamat Palang Merah .
Media semi-resmi Iran juga melaporkan ledakan keras di sekitar Teheran, termasuk di dekat kantor Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei. Meskipun sempat dikabarkan tewas oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, pihak Iran membantah keras klaim tersebut dan menyatakan Khamenei masih hidup dan berada di lokasi aman .
Serangan ini tidak dilakukan Israel sendirian. Amerika Serikat dikonfirmasi turut andil dalam operasi militer yang diberi kode "Operation Shield of Judah" ini. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa negaranya telah memulai "operasi tempur besar-besaran di Iran" dengan alasan program nuklir Teheran yang dianggap terus berkembang .
Pernyataan Trump bahkan menyerukan rakyat Iran untuk "mengambil alih pemerintahan" negara mereka, sementara Netanyahu menyerukan "pembebasan Iran dari tirani". Hal ini memicu kekhawatiran bahwa tujuan operasi ini tidak hanya sekadar serangan balasan, tetapi juga bertujuan untuk memicu perubahan rezim di Teheran .
Eskalasi ini memicu kekhawatiran global. Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengadakan rapat darurat dan menyerukan penghentian segera permusuhan. Ia memperingatkan bahwa aksi militer ini berisiko "memicu serangkaian peristiwa yang tidak dapat dikendalikan" di kawasan paling bergejolak di dunia .
Sejumlah negara pun bergerak melindungi warga negaranya di zona konflik. Duta Besar Moldova untuk Israel mengeluarkan imbauan resmi agar warga negaranya tetap di dekat tempat perlindungan dan mengikuti instruksi otoritas setempat . Pemerintah Oman juga menawarkan bantuan dengan berkoordinasi bersama maskapai internasional untuk menerbangkan pulang warga asing yang ingin dievakuasi dari kawasan Teluk .
Di tengah situasi mencekam, terdapat pula pemandangan kontras di Tel Aviv. Beberapa warga Israel justru terlihat pergi ke pantai, menyatakan dukungannya terhadap operasi militer ini. "Sudah saatnya," ujar Shira Dorany, seorang warga Tel Aviv, "Saya tidak mau menunggu lagi. Biar ini selesai sekarang" .
Konflik terbaru ini menjadi babak terbaru dan paling berdarah dalam ketegangan panjang Israel-Iran, menghancurkan harapan dari putaran negosiasi nuklir yang baru saja berlangsung di Swiss sehari sebelum serangan terjadi .
