![]() |
| Foto:kontroversial OpenAI |
VISTORBELITUNG.COM,Jakarta - Keputusan kontroversial OpenAI yang meneken kontrak dengan Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) berbuntut panjang. Raksasa kecerdasan buatan (AI) itu kini menghadapi gelombang boikot massal dari penggunanya sendiri. Data terbaru menunjukkan lebih dari 2,5 juta pengguna telah bergabung dalam gerakan boikot, menjadikannya salah satu krisis kepercayaan terbesar dalam industri AI .
Kontroversi bermula pada 28 Februari 2026, ketika OpenAI mengumumkan telah mencapai kesepakatan dengan Pentagon untuk menyebarkan model AI perusahaan di jaringan rahasia militer Amerika Serikat. Kesepakatan ini datang hanya beberapa jam setelah Pentagon membatalkan kontrak dengan pesaing utama OpenAI, yaitu Anthropic, dan secara mengejutkan perusahaan tersebut dinyatakan sebagai risiko rantai pasok (supply chain risk) oleh pemerintah AS .
Anthropic dilaporkan batal bekerja sama karena bersikukuh menolak permintaan Pentagon untuk menghapus batasan etis pada model AI mereka, terutama yang terkait dengan penggunaan untuk pengawasan massal dan pengembangan senjata otonom .
Gerakan boikot yang menamai diri QuitGPT ini dengan cepat merebak di media sosial. Sebuah situs web yang melacak gerakan ini mengklaim bahwa lebih dari 2,5 juta pengguna telah mengambil tindakan, mulai dari berhenti berlangganan, menandatangani petisi, hingga menyebarkan kampanye penolakan di berbagai platform .
"Kami mengorganisir warga Amerika dan masyarakat di seluruh dunia untuk berhenti menggunakan ChatGPT," demikian pernyataan dalam situs kampanye tersebut. Mereka ingin mengirim pesan kuat bahwa tindakan seperti ini tidak akan dibiarkan begitu saja .
Dampaknya terlihat sangat nyata secara kuantitatif. Menurut data perusahaan analis Sensor Tower, tingkat pencopotan (uninstall) aplikasi ChatGPT di Amerika Serikat melonjak hingga 295 persen hanya dalam sehari setelah pengumuman kerja sama tersebut. Angka ini berbanding terbalik dengan rata-rata harian pencopotan aplikasi yang hanya berkisar di angka 9 persen .
Tidak hanya itu, lautan ulasan negatif pun membanjiri halaman aplikasi. Ulasan bintang satu (one-star reviews) untuk aplikasi ChatGPT melonjak drastis sebesar 775 persen pada 28 Februari dan kembali naik 100 persen keesokan harinya. Sebaliknya, ulasan bintang lima merosot hingga setengahnya .
Gelombang protes tidak hanya datang dari eksternal. Di internal perusahaan, suara penolakan juga muncul. Aidan McLaughlin, seorang ilmuwan peneliti di OpenAI, secara terbuka mengkritik langkah perusahaannya. Dalam cuitannya di media sosial X, ia menegaskan, "Saya pribadi tidak berpikir kesepakatan ini sepadan." Ia juga mengungkapkan bahwa diskusi internal mengenai hal ini berlangsung sangat intens dan "luar biasa" .
Menghadapi tekanan yang semakin memuncak, CEO OpenAI Sam Altman pun angkat bicara dan mengakui kesalahannya. Dalam sebuah unggahan di X, ia mengaku bahwa pengumuman kerja sama dengan Pentagon dilakukan terlalu terburu-buru.
"Kami seharusnya tidak terburu-buru mengumumkan ini pada hari Jumat. Masalah ini sangat kompleks dan membutuhkan komunikasi yang jelas," tulis Altman. Ia menambahkan bahwa niat awalnya adalah untuk meredakan ketegangan, namun justru terlihat seperti tindakan yang "oportunistik dan ceroboh" .
Sebagai upaya meredam krisis, OpenAI bergerak cepat merevisi perjanjian dengan Pentagon. Sam Altman mempublikasikan memo internal yang menjelaskan penambahan klausul baru untuk memperjelas batasan penggunaan teknologi mereka . Beberapa poin penting dalam revisi perjanjian tersebut meliputi:
· Larangan Pengawasan Domestik: Sistem AI OpenAI dilarang keras digunakan untuk pengawasan massal terhadap warga negara atau penduduk Amerika Serikat. Larangan ini juga mencakup penggunaan data pribadi atau informasi identitas yang diperoleh secara komersial .
· Pembatasan Akses Intelijen: OpenAI memastikan bahwa layanan mereka tidak akan digunakan oleh badan intelijen seperti Badan Keamanan Nasional (NSA) tanpa adanya modifikasi kontrak lebih lanjut di masa depan .
· Prinsip Penggunaan Senjata: Altman menegaskan kembali komitmen bahwa AI tidak boleh digunakan untuk "pengawasan massal domestik" dan tetap mempertahankan "tanggung jawab manusia atas penggunaan kekuatan, termasuk untuk sistem senjata otonom" .
· Implementasi Bertahap: OpenAI berjanji akan bekerja sama dengan Pentagon secara "perlahan" dan dengan pengawasan teknis yang ketat, mengingat teknologi ini dianggap belum sepenuhnya siap untuk berbagai skenario penggunaan .
Sementara OpenAI terpuruk, pesaing utamanya, Anthropic dengan model AI-nya Claude, justru menuai berkah. Keputusan tegas Anthropic yang mempertahankan prinsip etika dengan menolak tuntutan Pentagon berbuah simpati publik .
Data menunjukkan lonjakan unduhan aplikasi Claude secara signifikan. Pada 27 Februari, unduhan Claude di AS meningkat 37 persen, dan melonjak lagi 51 persen pada 28 Februari. Puncaknya, Claude berhasil merebut posisi aplikasi gratis teratas di App Store Apple Amerika Serikat, menggeser ChatGPT yang selama ini bercokol di puncak . Para ahli menyebut fenomena ini sebagai contoh nyata dari Streisand effect, di mana upaya untuk menekan atau merepresi justru menghasilkan perhatian publik yang lebih besar .
Krisis yang melanda OpenAI ini menjadi titik balik penting dalam diskursus pengembangan AI di dunia. Insiden ini menyoroti ketegangan akut antara komersialisasi teknologi, kepentingan keamanan nasional, dan tuntutan etika dari publik. Lebih dari sekadar boikot, peristiwa ini menegaskan bahwa pengguna memiliki kekuatan untuk menentukan arah perkembangan teknologi, dan bahwa "garis merah" etika tidak bisa begitu saja dikorbankan demi kontrak bisnis bernilai tinggi. Langkah OpenAI yang berusaha menarik kembali kepercayaan publik dengan merevisi kontrak akan menjadi ujian apakah komitmen etika dapat berjalan seiring dengan ambisi bisnis di era AI.
